The Capital of Indonesia


Get Real Experience in the capital of Indonesia.

Perjalananku ke Jakarta ku mulai dengan menumpang Bus Nusantara Super Executive. Bus yg memang sangat nyaman dibandingkan dengan bus ekonomi, bisnis, atau bahkan executive. Tempat duduknya pun luas kursi urutan 1-2. dan jarak antar kursi pun cukup jauh. Dilengkapi dengan sandaran yang bisa dimiringkan sesuai kehendak penumpang dan juga sandaran kaki yg menempel dibawah kursi. Tak hanya itu bantal dan selimutpun siap menemani lelapnya tidur penumpang.

Perjalananku dengan bis ini beranjak dari garasi PO. Nusantara di Karanganyar, Demak. Untuk sekelas bus SE (Super Executive) sudah menyiapkan makan malam yang berada di kab. Semarang. Memang betul-betul sangat nyaman. Abah bicara kalau sebelumnya makan malamnya di daerah Kendal. Akan tetapi karena restaurant itu milik Nusantara juga, sehingga jatah makan malam pun di tempatkan di restaurantnya pula. Apalagi untuk pengisian solar bus-bus Nusantara. Nusantara mempunyai POM bensin sendiri. Sehingga kalau dipikir-pikir uang yang masuk ke Nusantara akan terus berputar di Nusantara tidak bisa keluar.

Bis melaju dengan kencang, walau kencang penumpang pun tidak merasakan didalam perjalanan karena sangat nyamannya bus itu. Hingga malam berlanjut aku nyenyak dalam tidurku. Tak terasa bis sudah sampai di Kab. Indramayu, Jabar. Bus menghentikan lajunya di restaurant yg cukup besar, Rumah makan Minang. Para penumpang yang hendak sahurpun dipersilahkan untuk bersantap sahur di rumah makan itu.

Pertama kali ku membeli di rumah makan itu satu hal yang harus kuucap… “EDAN”. Masak cuma nasi sebesar batok kelapa, ayam dan martabak yang sudah dingin ditambah teh hangat gelas kecil Rp25.000,-. Sungguh harga yang tidak wajar untuk sepiring makanan. Setelah ku tanyakan ke abah ternyata harga yang selangit itu memang dinaikkan untuk membiayai supir-supir bus yang mau menghentikan penumpangnya di rumah makan itu. Dengar-dengar setiap supir dapat makan, minum dan rokok yang kesemua GRATIS. Apalagi kalau supir itu sering menurunkan penumpangnya, maka diakhir romadhan dapet jaket rumah makan minang.

Memang begitulah cara manusia mencari rezeki. Ada yang mencari di siang hari, ada yang mencari di malam hari. Ada yang mencari rezeki di tengah-tengah orang-orang yang mencari rezeki. Hanya orang-orang malas yang tidak mau mencari rezeki.

Oke kita lanjut. Setelah menyantap hidangan untuk sahurku. Yang memang abah tidak ingin berniat puasa pada awalnya, ku mencari udara angin luar di dekat bus Nusa 04 bus yang kunaiki tadi. Sambil ngobrol-ngobrol tentang PO. Haryanto. Ku tanyakan pada abah..
Aku:”Bah, Haryanto itu milik orang cina,ya?”
Abah:”Bukan, itu milik orang jawa. Pemiliknya itu dulu teman main abah pas di desa Salam. Abah orang tumpang, dia orang salam. Dulu waktu kecil, dia itu terkenal beler atau nakal. Tapi memang sering ngaji. Terus dia masuk akmil. Setelah itu di tempatkan di terminal di Jakarta. Dan akhirnya coba-coba membuka bisnis Perusahaan Otobus.


Setelah setengah jam beristirahat, bus pun melanjutkan lagi perjalanan ke kota tujuanku, Jakarta. Dalam kencangnya bus berpacu, aku berfikir orang berani membuka usaha setelah dia benar-benar tahu medan apa yang akan di lalui. Contoh Haryanto yang sudah sekian lama di terminal. Dia pasti memikirkan semua hal tentang bus. Dia berfikir masalah jadwalnya, supirnya, busnya, tempat peristirahatannya, hubungan antar bus dengan perusahaan, masalah bus apabila mengalami kecelakaan dan tilang polisi, bahkan masalah izin serta jumlah penumpang di jalur-jalur tertentu.

Sepertinya halnya abah yang sering cerita kepadaku, dulu dia sering ikut orang dulu. Untuk belajar dan mempelajari cara-cara, langkah-langkah berdagang. Bagaimana modalnya, apa yang perlu di beli, tempatnya di mana, target pembeli siapa, berapa keuntungan yang bisa diperoleh, sampai aset apa yang dibutuhkan untuk membackup modal yang berputar.

Artinya ku menangkap disini orang sebelum terjun ke sesuatu dia harus mengetahui benar, medan yang ingin dilakukannya. Tidak boleh asal-asalan dalam menentukan langkah. Karena manusia hanya bisa berusaha dengan segala kemampuannya. Masalah rezeki Allah lah yang mengatur.

Setelah sampai di terminal Rawamangun, Jakpus. Tempat yang pertama kali ku tuju adalaaaah…. TOILET. Karena dari tadi setelah sahur ku banyak minum ditambah AC bus yang cukup membuat orang untuk berselimut. Sehingga dari pintu tol ku sudah menahan rasa pipisku.

Disini aku sholat subuh, mandi dan sejenak membaca qur’an meneruskan bacaan tadarusku di rumah. Ketika itu ku sekedar iseng-iseng saja sms Zulfikri menanyakan perihal dimana rumahnya. Eh, ternyata dia di rumah bersama Jabbar, Rizal, Torista. Mereka ke Jakarta dengan maksud menemui orang yang ingin membiayai biaya kuliah mereka. Sebenarnya si aku pengen ikut, tapi gak mungkin lah aku tega meninggalkanya sendirian dengan banyak membawa barang sutiran(BS). Dan juga tujuan utamaku ke Jakarta untuk belajar. Bukan bersenang-senang.

Setelah selesai bersiap-siap, aku dan abah menuju taksi depan terminal untuk menuju tujuan utamaku di Jakarta Pasar Regional Jatinegara. Memang ini bukan pertama kaliku ke pasar regional ini. Aku dulu pernah ke pasar ini, waktuku duduk di kelas 2 MTS. Tapi dulu masih banyak hal yang belum ku pahami. Dulu ku sekedar ikut-ikutan saja.

Para pedagang di pasar Jatinegara ini memang kebanyakan dari etnis tionghoa. Bahkan penjual makanannya pun juga banyak yang dari etnis ini. Yang ku acungi jempol untuk etnis ini adalah cara mereka berdagang. Mereka sudah mengajarkan perdagangan ke generasi muda. Mungkin banyak dari mereka yang seumuran denganku. Tapi sudah mampu memutarkan roda perekonomian sendiri. Mengatur jalannya toko, barang masuk, stok barang yang harus dibagi untuk semua pelanggan agar tidak terjadi kesenjangan dianatara pelanggan, cara merayu dan membujuk pelanggan. Dengan banyak mencoba barang baru, mengetahui isi muatan kantong semen, atau sak. Mungkin hanya satu, dua toko yang bosnya seumuran abah. Rata-rata bosnya itu usia-usia produktif. Dalam benakku, aku masih malu untuk ikut abah. (KINTIL WONG TUO).

Dan yang jadi kuli-kuli panggul malah rata-rata orang pribumi. Jadi bosnya orang cina, kulinya pribumi. Menurutku sama aja kita dijajah lagi. Suatu saat  aku pingin aku jadi bosnya. Dan orang cina jadi kuli. H-A-R-U-S….!!!! Di pasar Jatinegara ini kami banyak mendapatkan kendala. Barang-barang yang laku keras di pasar Kliwon banyak yang kosong. Sedangkan untuk berani mengambil barang baru, sales kami tidak berani mengambil. Jadi untuk sales-sales pasar kliwon itu banyak mencari barang dengan merek yang sudah terkenal. PERMINTAAN BANYAK, TETAPI BARANG TIDAK ADA. Sehingga para bos itu rata-rata tidak berani menjanjikan kapan barang akan ada. Rata-rata para bos itu mengeluhkan banyaknya para pengusaha konfeksi di Jakarta tetapi tidak diimbangi dengan jumlah penjahit. (PROBLEM YG HARUS DIPECAHKAN)

Setelah pasar regional jatinegara kami melanjutkan perburuan barang ke pasar taneabang. Keadaan di pasar ini tidak jauh berbeda dengan pasar jatinegara. Tetapi mungkin ukuran setiap kiosnya yang lumayan cukup luas dibandingkan dengan dengan kios-kios di Jatinegara. Dan di taneabang ini ada lahan baru untuk taneabang serta ditambah JMT (Jembatan Metro Taneabang) yang menjadikan pasar regional ini terlihat lebih besar dan modern dibandingkan dengan Jatinegara. Permasalahan yang sama pun kami dapatkan di pasar ini, TIDAK ADANYA BARANG.

Oh.. ya disini. Ku dapatkan kejadian unik. Barang yang dikirim dari Jakarta kurang 10 lusin. Jumlah yang tidak sedikit untuk pedagang grosir sekaliber abah. 10 lusin ini hamper bernilai 1,4 juta. Pada awalnya bosnya ini tidak mau mengakui kekurangan barang ini ketika kami konfirmasi lewat telefon. Tetapi setelah kami datang ke tokonya dengan membawa nota pembelian. Akhirnya dia memotong harga di nota pembelian itu. Satu hal yang masih menjadi kendala Abah disini adalah ketika ada problem dengan bos-bos Jakarta abah tidak bisa memutuskan hubungan kerjasama dengan sepihak. Apabila abah memutuskan hubungan secara sepihak maka yang banyak dirugikan adalah abah sendiri. Misalkan abah memutuskan dengan merk A, sehingga abah tidak menjual produk itu. Maka para sales abah akan pindah ke toko lain di pasar kliwon. Karena mungkin toko yang lain menjual barang A. Jadi, kita masih terlalu menggantungkan dengan satu toko di Jakarta. Karena toko di Jakarta satu toko satu merk. Dan para sales di pasar kliwon masih banyak yang memburu merk-merk yang terkenal saja.

Selesai belanja kami, menuju pangkalan pengiriman barang milik pak Mamat. Disini semua barang-barang yang kami beli di Jatinegara dan Tanah Abang dikumpulkan bersama dengan belanjaan para pedagang Pasar Kliwon untuk dikirim ke Kudus.

Setalah kami cek semua nota dan barang, kami menuju stasiun Gambir. Dalam perjalan ini kami menggunakan jasa kendaraan bajaj. Kami mengobrol-ngobrol tentang masalah bisnis ini.

Dari perjalanku ini aku menangkap banyak hal, diantaranya;
  1. Semua modal, channel, langkah-langkah, tempat pembelian, tempat penjualan (sales), toko, kepercayaan Bos Jakarta, pendistibusian sudah ada dan terbentuk.
  2. Generasi selanjutnya tinggal menambah dan mengembangkan bisnis ini.
  3. Tinggal mengembangkan sayap di dalam bisnis konveksi ini seperti produksi sendiri dan agar tidak ketergantungan terhadap Jakarta.
  4. Mempercantik usaha ini, karena semakin berumur maka semakin berkurang produktifitas. Maka generasi mudalah yang harus berjuang dan memperjuangkan bisnis ini.
  5. Jangan sampai bisnis yang sudah dirintis dan diusahakan berpuluh-puluh tahun akan hilang dan terkikis. Harus ada yang meneruskan dan melanjutkan.
Akhirnya senja monas kota Metropolitan di sore hari, menemani perjalananku pulang ke kampung halaman. Kereta Argosindoro pun melaju meninggalkan Jakarta yang penuh dengan segudang problematika dan permalasalahan.

Good Bye, Jakarta…!! Aku janji akan datang dengan keadaan dan posisi yang berbeda ..
Aku Janji … ^@^


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "The Capital of Indonesia"

Posting Komentar